MayDay, Gerakan Perempuan dan Aliansi Kolektif

Oleh: Rizki Wahyuda (Mahasiswa Biologi Untidar)

Sejak dahulu, sejarah gerakan buruh teramat pilu dan sarat akan perjuangan. Sejak jaman penjajahan kita mengetahui bahwa sejak mulai masa pra-imperialisme atau kolonialisme sudah ada pergerakan buruh walaupun dalam skala atau intensitas yang relatif kecil dan di golongkan dalam gerakan yang bersifat kedaerahan. Gerakan protes pada zaman dahulu lebih kepada golongan kaum tani (buruh tani) terhadap pemerintahan raja ataupun sultan yang feodal, sehingga menindas dan mengeksploitasi golongan kaum bawah. Sehingga akumulasi kaum buruh yang kian lama kian membludak mengakibatkan api perjuangan terbakar dimana-mana. Satu-persatu gerakan protes buruh menjadi suatu harapan perjuangan layaknya api yang menyambar, satu aksi menyulut aksi lainnya hingga menjadi sebuah upaya merawat demokrasi melalui cara demonstrasi.

Marsinah adalah seorang sosok aktivis perempuan dan juga penggerak buruh pabrik pada jaman pemerintahan orde baru yang berunjuk rasa di PT. Catur Surya untuk menuntut kenaikan upah buruh sebesar 20%. Beberapa hari setelah melakukan unjuk rasa, marsinah menghilang secara misterius selama 3 hari dan kemudian di temukan di hutan pada tanggal 8 Mei 1993 sudah dalam keadaan meninggal dengan keadaan tergeletak serta sekujur tubuh penuh luka memar bekas pukulan benda keras dan juga berlumuran darah. Dengan kejadian ini berarti kita dapat mengetahui bahwa adanya korelasi antara pemilik perusahaan dengan kematian marsinah. Hari-hari kemudian berlalu.

Dari Marsinah kita dapat belajar bahwa tugas perempuan tidak hanya sekedar mengurus sumur, kasur dan dapur, tetapi perempuan punya juga kekuatan untuk dapat berjuang melawan penindasan serta ketidakadilan terhadap buruh dan perempuan. Emansipasi wanita di maksudkan agar tidak adanya segmentasi gender antara laki-laki dan perempuan. Marsinah menunjukkan bahwa emansipasi tidak hanya sebatas dari peringatan hari tertentu dan gaya berpakaian, melainkan perempuan juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak, perempuan dapat bekerja, serta perempuan dapat berjuang untuk sesuatu yang di yakini benar. Dan bagiku, Marsinah lebih dari seorang Kartini.

Lalu apa korelasi antara kaum buruh dengan perempuan? Berpindahnya pekerja dari sektor agraria dan maritim ke sektor industri bukan hanya sekadar perubahan relasi produksi semata, melainkan juga strategi. Artinya kebutuhan perekonomian dan juga tingkat kepuasan kebahagiaan masyarakat akan sangat bepengaruh terhadap proses produksi hingga distribusi barang atau produk.

Dahulu mereka yang tidak mempunyai pekerjaan masih bisa bertahan hidup dengan memanfaatkan dan mengolah ladang ataupun perkebunan mereka. Tetapi saat ini, sektor agraria dan sektor maritim paradigma nya mulai di ubah agar menjadi sektor industri. Serta dampak dari era globalisasi dan revolusi industri, menyebabkan masyarakat modern berasumsi bahwa sektor agraria dan maritim terdengar ‘kuno’. Sehingga para suami tidak lagi dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga dengan hanya mengandalkan ladang dan perkebunan. Akibatnya, para istri membantu suami nya untuk saling menguatkan perekonomian rumah tangga dengan melakukan pekerjaan domestik yang di lakukan di rumah, dan ada juga yang mencoba bekerja sebagai buruh harian lepas (baca:serabutan).

Sementara beberapa aturan dan kebijakan masih ada yang mendomestifikasi terhadap perempuan itu sendiri. Contohnya di dalam Omnibus Law RUU CILAKA yang akan mengubah aturan penggajian/pengupahan perminggu/perbulan menjadi upah perjam. Secara tidak langsung, perempuan akan terkena dampak dari aturan ini apabila di sahkan nantinya, akan ada kemungkinan bahwa cuti hamil, cuti  haid dan cuti melahirkan tidak lagi di hitung ke dalam pengupahan. Belum lagi kebijakan sistem outsourcing yang akan membuka lebar fleksibilitas pasar kerja. Sehingga kemungkinan perempuan yang sedang cuti tadi dapat di PHK secara sepihak oleh perusahaan dan juga tidak mendapatkan gaji. Apabila perempuan tidak bergerak untuk melawan ketidakadilan terutama Omnibus Law ini, maka yang akan terjadi hanyalah penindasan dan ketidakadilan terhadap gender.


Gerakan perempuan mulai dari marsinah, kartini, dan perempuan lain yang semakin lama semakin berakumulasi menciptakan berbagai gerakan dan aliansi perempuan atas dasar keresahan bersama. Gerakan-gerakan perempuan hanyalah sebagian kecil dari sekian banyaknya aliansi kolektif yang terbentuk. Aliansi kolektif sendiri adalah sekumpulan manusia yang berserikat karena keresahan bersama, sehingga banyak dari aliansi membahas tentang isu publik untuk menyatakan sikap hingga terjun langsung ke jalan dalam bentuk aksi demonstrasi.

Mayday adalah suatu momentum dari suara rakyat yang resah terhadap penguasa atau terhadap para pemangku kepentingan. Mayday ada setiap tahunnya sebagai upaya peringatan agar para pemangku kepentingan tidak semena-mena terhadap para buruh dan kepada rakyat. Mayday adalah suatu momentum untuk merawat demokrasi melalui demonstrasi. Mayday ada sebagai bentuk perlawanan terhadap kesenjangan kelas. Mayday adalah harapan bagi mereka yang memperjuangkan kelas. 

Mahasiswa sebagai agent of change sebenarnya tidak sepenuhnya benar bahwa hanya mahasiswa lah satu-satunya agen perubahan, tetapi mahasiswa dapat menjadi sebuah wadah fasilitator/inisiator untuk memulai perubahan dengan menggandeng berbagai elemen masyarakat seperti serikat buruh, serikat pelajar, organisasi, komunitas, LSM, LBH, individu merdeka, dll untuk mengkaji isu publik secara akademis. Dengan adanya persatuan dari berbagai elemen masyarakat yang resah dan berserikat, kita dapat memberikan peringatan kepada para pemangku kepentingan. Sehingga kemungkinan terciptanya sistem Sosial yang mensejahterakan dan berkeadilan adalah suatu hal yang optimis.

Konklusinya, adanya Mayday adalah semacam kewajiban bagi setiap individu di Negara ini untuk mengingat serta memperjuangkan hak-hak kaum buruh. Karena semua orang adalah buruh dan calon buruh. Sehingga perjuangan untuk mendapatkan keadilan terhadap golongan buruh adalah suatu kewajiban. Mari berserikat, bentuk aliansi dan status sosial yang baru.

Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat! Hidup Individu Merdeka! Hidup Buruh! Hidup Tani! Hidup Perempuan yang Melawan!

Sapardi Djoko Damono – Dongeng Marsinah

Marsinah, buruh pabrik arloji 
mengurus presisi
Merakit jarum, sekrup dan roda gigi 
Waktu memang tak pernah kompromi
Ia sangat cermat dan hati hati 
Marsinah itu arloji sejati
Tak lelah berdetak meminta kefanaan yang abadi
Kami ini tak banyak berharap
Sekedar hidup layak: Sebutir nasi

Marsinah, kita tau tidak bersenjata
Ia hanya suka merebus kata-kata sampai mendidih lalu meluap kemana-mana
Ia suka berfikir, kata siapa? Itu sangat berbahaya.
Marsinah tak ingin menyulut api
ia hanya memutar jarum arloji agar sesuai dengan arah matahari
Ia tau waktu hakikat waktu, kata siapa?
Dan harus di kembalikan ke asalnya: debu

Di hari baik bulan baik
Marsinah di jemput di rumah tumpangan untuk suatu perhelatan
Ia di antar ke rumah siapa, ia di sekap di ruang pengap, ia di ikat ke kursi 
Mereka kira waktu bisa di sumpal 
Agar lengking detiknya tidak terdengar lagi

Marsinah tidak di beri air 
Ia tidak di beri nasi
Detik pun gerah 
Berloncatan kesana kemari

Dalam perhelatan itu
Kepalanya di tetak, selangkangannya di acak-acak
Dan tubuhnya di biru lebamkan dengan besi batangan
Detik pun tergeletak, marsinah pun abadi

Di hari baik bulan baik
Tangis tak pantas
Angin dan debu jalan, klakson dan knalpot mengirimkan jenazahnya ke nganjuk
Semak-semak yang tak terurus dan tak pernah ambil peduli, meregang waktu bersaksi
Marsinah di seret dan di campakkan
sempurna, sendiri…

Pangeran, apakah sebenarnya inti kekejaman?
Apakah sebenarnya sumber keserakahan?
Apakah sebenarnya azas kekuasaan
dan apakah sebenarnya hakikat kemanusiaan pangeran?
Apakah ini?
Apakah itu?
Duh gusti, apakah pula makna pertanyaan?

Saya ini marsinah, buruh pabrik arloji, ini surga bukan?
Jangan saya di usir dari surga di kembalikan ke dunia lagi
Jangan saya di kirim ke neraka itu lagi 
Malaikat tak suka banyak berkata
Ia sudah paham maksudnya 
Sengsara betul hidup disana: jika suka berfikir, jika suka memasak kata
Apa sebaiknya kita ini menggelinding saja bagai bola sodok? bagai roda pedati?

Malaikat tak suka banyak berkata, ia biarkan gerbang terbuka
Saya ini marsinah
Saya tak mengenal wanita berotot
yang mengepalkan tangan yang tampangnya garang di poster-poster itu
Saya tak pernah jadi perhatian dalam upacara dan tidak tahu harga sebuah lencana

Malaikat tak suka banyak berkata
Tapi lihat, ia seperti terluka
Marsinah itu arloji sejati
Melingkar di pergelangan tangan kita ini
Di rabanya denyut nadi kita dan di ingatkannya
agar berlajar agar memahami hakikat presisi
Kita tatap wajahnya setiap pergi dan pulang kerja
Kita rasakan detak-detiknya dalam setiap getaran kata
Marasinah itu arloji sejati, melingkar di pergelangan tangan kita ini


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MayDay, Gerakan Perempuan dan Aliansi Kolektif"

Posting Komentar