Merespon Peringatan Hari Kartini dalam Perspektif Sekulerisme

Oleh: Septian Yoga Prabowo (Mahasiswa Administrasi Negara Untidar)


Artikel ini ditulis sebagai suatu respon akan keprihatinan tentang banyaknya logical fallacy dalam peringatan hari kartini serta korelasinya dengan keadaan masa kini sehingga berujung kepada sikap atau tindakan misoginis.

Setiap tahunnya kelahiran Kartini pada tanggal 21 April ditetapkan dan diperingati sebagai Hari Kartini di Indonesia. Dalam pelaksanaan perayaan peringatan hari Kartini biasanya diadakan festival hingga karnaval bagi anak-anak TK hingga SD, penggunaan kebaya didalam kantor-kantor pemerintah dan juga biasanya stasiun TV menayangkan siapa Kartini serta pendekatan sosoknya dalam era saat ini. Sayangnya, perayaan hari Kartini saat ini tidak akurat mencerminkan Kartini dan apa-apa yang diperjuangkannya.


Kartini dikenal sebagai pejuang emansipasi perempuan, dimana beliau menginginkan suatu perubahan sistem sosial dikala itu, dimana perempuan bisa dipenuhi hak-haknya dan bisa mendapatkan pendidikan setara dengan laki-laki. Serta perjuangannya dalam melawan poligami, karena menurut Kartini, poligami adalah perbuatan dosa, sebab “segala perbuatan yang menyakitkan sesamanya adalah dosa di mataku”, dan juga karena pada masa itu poligami dijalankan berdasarkan nafsu dengan penyalahgunaan agama sebagai pembenarannya.

Namun saat ini, peringatan Hari Kartini tidak menjadi relevan dengan cita-cita dan gagasan dari Kartini itu sendiri, karena banyak kegiatan atau lomba-lomba yang hanya mengerdilkan Kartini sebatas dilihat dari busana yang dia gunakan, serta tidak mengulas tentang gagasan, cita-cita dan perjuangannya. Ditambah dengan masih lengketnya doktrin sosial agama untuk domestikasi perempuan supaya model perempuan ideal itu hanyalah menjadi seorang istri dan putri yang patuh terhadap tradisi dan kebudayaan a la laki-laki.

Dibalik perjalanan sejarah lebih dari 140 tahun beberapa cita-cita Kartini telah tercapai, dimana kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam akses pendidikan, dan ekonomi tercapai, namun dibalik itu masih banyak keprihatinan didalam bidang sosial dan budaya. Banyaknya standar sosial masyarakat yang masih belum setara beberapa diantaranya adalah baik buruknya perempuan dinilai hanya dari sebatas sebuah selaput dara, dimana perempuan yang tidak perawan dianggap sebagai perempuan yang buruk / jelek / selevel lebih rendah dibandingkan perempuan yang masih perawan, sedangkan dalam dunia kedokteran sendiri pernyataan misoginis ini telah dibantah dengan banyak artikel/jurnal kedokteran yang membahas tentang selaput dara (hymen), dibandingkan dengan standar sosial masyarakat dimana laki-laki yang baik dilihat dari keperjakaannya, namun dari sisi fisiologi keperjakaan laki-laki tidak dapat dibuktikan apakah laki-laki tersebut masih perjaka atau tidak.

Pada hari ini dimana banyak orang sedang mengenang perjuangan kartini, saya membaca suatu postingan komentar meme dimana terdapat kata-kata “susah payah saya naikkan derajat wanita, tapi lu malah jadi lonte”. Tidak akan bisa kita pungkiri bahwa cara berfikir seperti ini akan selalu ada (terkhusus dilakukan oleh kaum laki-laki). Mereka yang mempunyai pemikiran seperti itu sebenarnya sedang melakukan domestikasi perempuan dimana ketika perempuan tidak mau mengikuti standar ataupun doktrin sosial masyarakat yang ada maka perempuan itu akan dicap sebagai lonte.

Jika dalam definisi lonte sebagaimana yang saya pahami, maka masyarakat kita sendiri belum sepenuhnya memahami apa yang Kartini perjuangan selama ini,  yang mereka pahami hanyalah kulit terluar dari perjuangan dari Kartini itu sendiri, dimana kita sebatas menuliskan selamat memperingati Hari Kartini, dan menggunakan baju adat dalam kegiatan perayaannya sehingga selama ini kita melaksanakan perayaan yang semu. Bukan ide, gagasan ataupun cita-cita dari Kartini yang kita angkat.

Itu mungkin karena masyarakat kita sendiri masih mendewakan suatu logo atau simbol yang diperlihatkan atau dipakai dibandingkan dengan memahami esensi dari logo maupun simbol tersebut.

Sedangkan menurut Glosarium kementerian sosial sendiri mendefinisikannya sebagai berikut “Seseorang yang melakukan hubungan seksual dengan sesama atau lawan jenisnya secara berulang-ulang dan bergantian di luar perkawinan yang sah dengan tujuan mendapatkan imbalan uang materi atau jasa (Kepmensos No.16/PRS/KPTS/XII/2003)” atau biasa disebut sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK).

Tidak ada didalam norma sosial, dan agama di Indonesia yang membenarkan mengenai PSK ini, namun jika kita melihat dari kacamata yang lebih luas, menurut penelitian dari Jennifer Musto, Crystal A. Jackson, Elena Shih yang berjudul Prostitution and Sex Works dalam International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences tahun 2015, PSK mempunyai berbagai alasan kenapa dia melakukan pekerjaan ini, bisa dilatarbelakangi oleh kebutuhan biologis, keadaan sosial dan ekonomi namun juga bisa mengeblurkan batasan diantara semua itu.

Sehingga menurut penulis sendiri, PSK itu tidak salah yang salah adalah kita yang hanya bisa memberikan stigma tanpa mau mengetahui latar belakang dia melakukan hal tersebut dan tidak mau membantunya untuk keluar dari rutinitas tersebut. Lalu apakah dengan itu kita bisa menberikan stigma bahwa mereka merupakan suatu objek yang lebih rendah daripada perempuan yang lain?

Apakah sikap dari perempuan yang tidak tunduk terhadap domestikasi ini sejalan lurus dengan perilakunya?

Didalam ABC model of Attitudes terdiri dari 3 komponen, yaitu komponen afektif (komponen yang melibatkan perasan / emosi seseorang tentang sikapnya terhadap objek), komponen perilaku (cara sikap yang mempengaruhi kita untuk bertindak / berperilaku) dan komponen kognitif (komponen yang melibatkan keyakinan / pengetahuan seseorang tentang suatu sikap kepada objek). Salah satu asumsi yang ada tentang hubungan sikap dan perilaku disebut dengan konsistensi, kita sering mengharapkan perilaku seseorang untuk konsisten dengan sikap yang mereka pegang.

Prinsip konsistensi mencerminkan bahwa orang itu berfikiran bahwa dia rasional dan berusaha untuk berperilaku rasional setiap saat untuk memberitahukan bahwa perilaku seseorang harus konsisten dengan sikapnya. Walaupun prinsip ini mungkin benar, namun tidak setiap orang mengikutinya, terkadang berperilaku dengan cara yang tidak masuk akal ataupun tidak konsisten dengan sikapnya. Dalam studi yang dilakukan oleh La Piere (1934) yaitu “Attitude versus Action” dimana hasil studi tersebut menyebutkan bahwa komponen kognitif dan afektif dari perilaku tidak selalu cocok dengan perilaku. 

Bisa disimpulkan pada akhirnya bahwa perilaku suatu individu tidak selalu selaras dengan sikapnya. Karena rasanya miris kita menilai perilaku atau iman seseorang hanya berdasarkan apa yang terjadi diluarnya saja, khususnya dalam kita memperingati semangat Kartini. Kita seharusnya lebih lantang berbicara tentang kesetaraan upah, membahas solusi pernikahan dibawah umur, dan berbicara tentang masih banyaknya perempuan yang dianggap hanya sebagai objek saja yang dilanggengkan oleh masyarakat. Juga hingga sekarang masih banyak laki-laki yang tidak paham emansipasi.

Masih banyak laki-laki yang merasa tahu dan berhak menentukan bagaimana perempuan berpakaian, bersikap dan berperilaku. Ironisnya sering diteriakkan di Hari Kartini. Mungkin perempuan yang tidak mau ditundukkan ini adalah dia yang sebenarnya paling merasakan bagaimana menjadi Kartini disaat ini. Semoga kita tidak hanya memperingati Hari Kartini sebatas hanya menggunakan batik dan atau kebaya dihari perayaan tersebut.

Referensi:

Eagly, A. H., & Chaiken, S. (1993). The psychology of attitudes. Harcourt Brace Jovanovich College Publishers.

Mustikawati, Citra. "Pemahaman Emansipasi Wanita." Jurnal Kajian Komunikasi, vol. 3, no. 1, 2015, pp. 65-70

Musto, J. , Jackson C. A., & Shih, E. (2015) International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences (Second Edition), 279-285.

LaPiere, R. T. (1934). Attitudes vs. Actions. Social Forces, 13, 230-237.

Keputusan Menteri Sosial No.16/PRS/KPTS/XII/2003

https://tirto.id/keperawanan-dalam-dunia-medis-cNcm

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Merespon Peringatan Hari Kartini dalam Perspektif Sekulerisme"

Posting Komentar