Paskah: Saatnya Bangkit dari Praktik Konservatisme Beragama

Oleh: Ivan Putu Wijaya Siagian (Kristen Progresif)

Memasuki masa menjelang Paskah selain dihantam wabah virus corona, relasi sosial dan teologi masyarakat juga sedang diserang pemahaman dan praktik konservatisme beragama (religious conservatism). Agama yang seharusnya sebagai media pembebasan, kini beralih fungsi menjadi suatu media penyebaran kebencian. Agama dijadikan suatu bekal keberanian untuk mengibarkan kebencian atas nama kesucian.

Pemahaman dan praktik konservatisme beragama sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Saat ini praktek tersebut muncul kembali ditandai dengan maraknya demonstrasi berpayung agama guna menggelorakan semangat permusuhan sehingga terlihat nafas agama pada wajahnya yang destruktif. Hal ini juga sangat jelas tergambar pada Kekristenan saat ini, gereja terlalu sibuk dengan persaingan, tatanan, eksistensi, dan nominal uang persembahan (kolekte) demi suatu kepentingan golongan yang itu semua mengatasnamakan Tuhan.

Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan jalan yang diajarkan Yesus, dimana Ia mengajarkan; di dalam proses kehidupan hal yang terpenting adalah kasih. Kasih yang tidak melihat suku, ras, dan golongan. Yesus menyatakan bahwa kasih haruslah lebih diutamakan daripada hal hal lainnya yang tertulis di Alkitab, “demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1 Korintus 13:13). 

Hal tersebut membuktikan praktik agama dalam gereja memang sudah berubah sehingga dengan adanya keyataan  demikian, muncul sebuah anggapan bahwa kematian agama sudah dekat. Dan para elit politik telah memanfaatkan realitas tersebut sebagai objek yang dengan mudah diperdagangkan demi suatu kepentingan (komoditas).

Konsep Pembebasan

Pesimisme beragama yang berujung pada kematian agama pada kehidupan sosial saat ini harus dilawan sebagai wujud panggilan umat beriman untuk mengembalikan posisi  ideal kekristenan. Upaya tersebut bukan hanya berkaitan pada keikhlasan untuk membangun ulang gagasan teologi pada nilai pembebasan dan kemanusiaan universal. Upaya ini juga membutuhkan pribadi yang berani melawan; melawan penindasan sebagaimana dilakukan Yesus dalam membongkar praktik persekongkolan pemimpin agama Yahudi dengan para kartel dan elit Pax Romana.

Pada kehidupan bermasyarakat Palestina masa Yesus, banyak tokoh agama yang tidak pro rakyat dan memutuskan kompromitas dengan elit kerajaan sehingga menyuburkan pesimisme beragama. Agama telah merelakan dirinya direnggut kekuasaan yang koruptif sehingga masyarakat semakin tertindas.

Dalam keadaan demikian, Yesus hadir menyerukan panggilan pokok keberagamaan kepada masyarakat yang mengalami kematian sosial. Yesus berkata, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan  ahli-ahli Taurat dan orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Matius 5: 20), yang mana hal ini sebenarnya menunjukkan bahwasanya Yesus mengajak kita semua untuk bersama sama menebar dan menumbuhkan semangat kasih.

Guna mewujudkan nilai keagamaan dan kemanusiaan universal, Yesus hadir mengajar dan menyembuhkan orang sakit serta menjadi pelaku damai dalam relasi sosial  yang bersifat sektarian dan melawan konservatisme beragama. Yesus hadir guna membangkitkan harapan hidup dan pembebasan pada realitas sosial yang ditandai  adanya semangat permusuhan, kebencian bertajuk pedang antara orang Samaria dan Yahudi.

Yesus dan Paskah

Tindakan Yesus menjadi ancaman subversif bagi penguasa Roma yang bersekongkol dengan pemimpin Yahudi sebagai agama mayoritas. Guna menghancurkan ancaman tersebut, Kaisar Roma dan pemimpin agama Yahudi merekayasa hukum dengan tuduhan peninstaan agama. Pontius Pilatus, prokurator atau gubernur Roma, pemimpin utama di Yerusalem, berkoalisi dengan Herodes Antipas yang bertindak sebagai komprador kolonial Roma dan berkompromi dengan ahli-ahli Taurat, Imam Yahudi.

Di pengadilan rakyat yang berkumpul pada masa perayaan Paskah Yahudi untuk mengenang pembebasan dari Mesir, Yesus mengaku bahwa “Aku adalah Raja yang akan merubuhkan Bait Allah dan membangunnya dalam tiga hari”. Atas pernyataan itulah Yesus harus disalibkan dan dihukum mati dengan tudahan penistaan agama serta dianggap menggerakkan kudeta guna menggulingkan Pax Romana.

Tetapi Kuaasa Allah tidak ditelan penyaliban dan kematian Yesus. Yesus dibangkitkan dan mengalami kemuliaan demi menyelamatkan manusia. Itulah makna Paskah dan menjadi dasar fundamental umat beriman dalam perjuangan kemanusiaan universal, hidup dalam kasih tanpa terjebak pada domestifikasi golongan dan konservatisme beragama.

Kebangkitan

Paskah adalah peringatan dimana ada suatu kuasa yang berhasil meruntuhkan bangunan dogmatisme bertajuk konservatisme beragama dan membangkitkan harapan dari kematian sosial agar menjadi manusia kasih agar supaya mampu mewujudkan kemanusiaan yang universal. Dengan demikian, Paskah bukan hanya bersifat teologis sebagai tindakan kuasa Allah yang mengalahkan kematian, tetapi juga politis sebagai suatu perintah bagi umat beriman untuk memperbaiki realitas sosial dari kerukunan. 

Sesungguhnya, Paskah bukan hanya bersifat teologis yang hanya bisa dimaknai secara kualitas keimanan, tetapi Paskah juga bersifat politis, yang mana momen Paskah menjadi dasar fundamental bagi orang Kristen guna mewujudkan panggilan identitas sebagai garam, pelaku damai dalam memaknai realitas sosialnya saat ini. Perayaan Paskah menjadi momentum penghayatan Iman bagi orang Kristen guna membangkitkan harapan hidup untuk mengalahkan kuasa dosa, keluar dari semangat kebencian dan mampu melawan jiwa konservatisme menuju kehidupan kerajaan Allah.

Salib menjadi suatu lambang atau simbol pembebasan yang memanggil dan membawa para pengikut Yesus lintas zaman, suku bangsa dan golongan untuk menjadi bagian dari kolektifitas pembebasan dari bawah dan lintas kelompok yang disatukan oleh semangat dan solidaritas untuk melawan penindasan.

Hal inilah yang seharusnya dimaknai dan dilaksanakan mulai hari ini, praktik agama di dalam gereja seharusnya menjadi suatu antitesis dari dunia dan bisa membebaskan umat manusia dari penindasan dan kemiskinan. Gereja tidak seharusnya ikut arus dan terjebak dalam konservatisme beragama. Sebagaimana kematian Yesus di tangan Pax Romana membangkitan semangat perlawanan, maka hari ini salib, sekali lagi, mengingatkan kita bahwa perjuangan melawan penindasan masih belum selesai. 

Orang Kristen haruslah hidup dan menjadi pelaku kasih dan damai sebagai wujud nilai keagamaan yang lebih benar. Pada praktiknya, gereja harus secara terus menerus memaknai cara beradanya dalam realitas berpijaknya. Sebab, jiwa konservatisme beragama selalu ada di dalam semua agama termasuk agama Kristen. 

Para pengikut Yesus diseluruh belahan dunia saat ini dipanggil memandang salib dan melaluinya, melihat sejarah sebagai rangkaian kejadian  progresif yang menuju pada masa depan yang gemilang, secara otomatis salib meminta kita melihat gerak sejarah sebagai lahan yang terbuka untuk segala kemungkinan baik maupun buruk. Oleh karena itu, Salib memanggil para pengikut Yesus mengerjakan revolusi itu hari ini dengan terlibat dalam semangat kepeloporan secara langsung. Salib memanggil kita untuk menghidupi hidup saat ini, bukan nanti setelah kerajaan Allah datang.

Sugeng Paskah, mugi Gusti maringi berkah!


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Paskah: Saatnya Bangkit dari Praktik Konservatisme Beragama"

Posting Komentar