Aku Ingin Seperti Kalian! NKRI HARGA MATI!!

Oleh: Felix Panjaitan (Mahasiswa Peternakan Untidar)


Aku Ingin Seperti Kalian (Pimpinan Komisi 1 DPM KM Untidar)
NKRI HARGA MATI!!
NKRI HARGA MATI!!

Ucap mereka yang dengan penuh semangat nasionalis yang menunjukkan cintanya terhadap negara ini. Kata-kata itu sering terdengar didaratan kaya ini dan dijadikan slogan kebersamaan dalam membela Indonesia dibidang apapun. Aku juga ingin mengatakan hal seperti itu tetapi mulut ini tidak sanggup untuk mengatakannya, karena aku merasa sendiri di daratan kaya ini. Aku makan, minum, bermain, belajar banyak hal dari daratan kaya ini tetapi mengapa aku belum bisa puas? Mengapa aku masih merasakan dianak tirikan di daratan kaya ini? Mengapa aku merasa ketidakadilan yang begitu mendalam di daratan kaya ini? Mengapa?? Pertanyaan itu sering muncul dalam benakku hampir setiap harinya, selalu mengganggu dan menghantui pikiranku dan ingin membuat aku melawan dan membunuh mereka yang menolak dan bahkan menganggabku tidak ada. Tapi aku tidak bisa melakukan itu, karena aku hanya seorang anak yang tidak mempunyai hasil apapun untuk bisa berkata-kata bijak seperti mereka yang tiap hari tampil dilayar kaca televisi dengan menunjukkan kekayaannya.
Hari-hariku dikelilingi dengan banyak permasalahan yang hampir tak kunjung usai, aku menganggap ini adalah prosesku sebagai manusia yang akan menempati posisi atas. Aku selalu mengadapi permasalahan yang hadir aku mengorbankan segalanya untuk memecahkan berbagai masalah, tapi yang aku dapat adalah hinaan karena aku terlalu banyak berkorban. Mereka bilang aku terlalu utopis, tidak logis, bodoh dll. Aku terima semuanya dan menjadikan doa agar semua usaha yang aku lakukan menjadi pembalik dari ucapan mereka. Setiap harinya aku berada dalam dunia imaginer yang aku namai Damn Sweet Home. Aku selalu beranggapan bahwa pikiran dangkalku ini akan membimbingku ke cita-citaku. Tapi hal itu tidak berlangsung lama ketika aku ingin bersekolah dengan sedikit uang.
Aku panik, bimbang, putus asa bahkan hampir gila. Kedua orang tuaku bisa dibilang tidak bekerja dan bekerja, artinya tidak mempunyai pekerjaan yang tetap. Aku ingin sekolah tapi kantung kosong, prestasiku tertutup oleh mereka orang-orang titipan, kegigihanku kalah dengan mereka yang punya banyak fasilitas dikediamannya. Aku harus apa? Ketika aku sudah masuk kedalam sekolah yang telah aku ikuti ujiannya tapi tidak sanggup kantung ini untuk memuaskan mereka. Menangis pun percuma karena tidak akan merubah apa-apa, aku hanya berharap, berharap dan berharap bahwasanya orang nomor satu didaratan kaya ini akan memperhatikan aku dan orang-orang yang bernasib sama denganku. Tetapi ketika aku berharap terlintas di otakku sebuah kalimat  di film Lord of The Rings yaitu “do not trust a hope, it was forsaken in these lands”. Seketika aku terdiam dan tidak bisa lagi berkata apa-apa. Hanya ingin bunuh diri karena kegilaan ini, mau berjuang pun aku tidak dikenal, mau meminta pun aku tidak tau meminta kepada siapa, mau diam mimpiku akan hilang.
Mimpiku sederhana hanya ingin mengucapkan NKRI Harga Mati seperti orang lain hanya saja dengan sebuah hasil yang besar yaitu berkontribusi dalam memajukannya, tapi mimpi itu semakin menjauh dan daratan kaya inipun seakan meninggalkanku dalam gelap yang sangat terang.
            Kalah, mungkin itu kata yang tepat buatku. Aku tidak bisa melanjutkan mimpiku dan harus mencari cara lain untuk mendapatkan uang. Bekerja dengan upah pas-pasan pun langsung terlintas dalam benakku. Ya aku hanya sianak miskin yang memang berdosa jika mempunyai mimpi haha.
Mereka yang Layak
            Ilustrasi diatas adalah gambaran sesorang yang ingin melanjutkan sekolahnya di tingkat universitas tetapi tidak bisa karena tidak memiliki kekuatan untuk membayar biaya kuliahnya. Setiap orang punya mimpi, setiap orang punya tujuan, setiap orang punya maksud dan tujuan, tapi tidak semua orang beruntung untuk mewujudkan mimpinya. Ada berbagai faktor yang membuat orang gagal mewujudkan mimpinya, salah satunya adalah keterbatasan ekonomi. Pendidikan kali ini mengalami peningkatan yang sangat drastis yaitu sampai pada tahap komersialisasi, pendidikan hanya bagi mereka yang bermodal bukan bagi mereka yang mau belajar. Dan ironisnya tiap manusia dipaksa untuk melakukan hal yang sama seperti contoh dalam satu kelas kita dipaksa untuk mendapat nilai yang sempurna dalam bidang matematika dan bidang-bidang lainnya. Passion? Mungkin hanya 10%. Aku bisa bernyanyi dan melukis tapi aku harus sekolah dengan sisetem pendidikan dimana aku harus bisa menguasai semua hal.
            Kembali lagi dalam komerisalisasi pendidikan, dimana pendidikan disiapkan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Universitas contohnya, banyak universitas saat ini berlomba-lomba menjadi tim ahli suatu korporasi, dengan mengharapkan imbalan atas riset-riset yang dilakukan. Institusi pendidikan saat ini tidak lagi berbicara soal mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara tetapi semakin menghancurkan ruang-ruang lingkup pendidikan di masyarakat dengan modal yang menjadi faktor utama orang bersekolah.
            Louis Althusser seorang filsuf beraliran marxis pernah bilang bahwa peran utama pendidikan dalam masyarakat kapitalis adalah reproduksi dari tenaga kerja yang efisien dan patuh serta juga ideologi dalam masyarakat kapitalis merupakan alat untuk kontrol sosial. Hal ini pun terjadi dalam sekolah, dimana transmisi ideologi kapitalisme hanya dan wajar terjadi di institusi pendidikan. Tidak heran jika institusi pendidikan pada era kekinian mengajarkan murid untuk bersaing dengan sesama murid lainnya jika mereka ingin menjadi lebih baik. Institusi pendidikan juga menjadi tempat untuk melatih pekerja dimasa depan agar tunduk pada otoritas khususnya otoritas kapital. Disini pendidikan menampakkan wujudnya sebagai aparatur negara ideologis yang mengekalkan hegemoni kapital atas rakyat pekerja.
            Semenjak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi (UU-PT), terkhusus Perguruan Tinggi Negeri (PTN) harus mengubah statuanya menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH). Kebijkan ini memiliki efek bagi mahasiswa dan calon mahasiswa, dimana hak mahasiswa atas kampus mulai tercabuti. PTN-BH lahir dari semangat untuk meliberisasi pendidikan juga memasukkan beberapa gagasan untuk memprivatisasi dan mengkomersialkan kampus. Masalahnya adalah kampus yang dulu dikenal sebagai institusi pendidikan yang bertujuan mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara harus berbagi tempat dengan para kapitalis yang ingin membangun pasarnya dalam kampus. Hasilnya adalah kampus menjadi lahan bisnis yang sangat subur untuk mengeruk kekayaan bagi para kapitalis.
            Pembangunan di kampus juga merupakan produk liberisasi pendidikan tinggi yang mempersilahkan mencari dana tambahan dalam menjalankan aktivitas kampus (pembangunan infrastruktur, pembayaran listrik, iuran air, membayar gaji dosen dan pegawai, dll) dan juga dari pihak-pihak luar kampus yang dikarenakan subsidi dana dari pemerintah perlahan-lahan dikurangi senagai implikasi dari kebijakan otonomi yang diberikan pemerintah pada kampus yang bersangkutan. Hal inipun berdampak pada pembangunan kampus hanya bertujuan melayani kepentingan kelas menengah atas, dan pada saat yang sama kampus menjadi tidak ramah terhadap masyarakat kelas bawah.
Saya mengutip sebuah kalimat dari seorang Wakil Presiden BEM FKM UNHAS (2015-2016) bahwa hak atas kota yang diracuni oleh perkembangan kapitalisme-liberal yang ditulis oleh David Harvey. Hak atas kampus merupakan upaya merebut kontrol atas kampus agar upaya perjuangan kelas yang revolusioner. Pembangunan gerakan sosial yang progresif, massif, terorgansisir, dan tersistematis dimana hal ini menjadi hal yang sangat penting untuk merebut kembali hak atas kampus.
Hal ini bisa kita jadikan pandanngan bahwa pengambilan kebijakan tertinggi dikampus adalah semua unsur itu sendiri bahkan mahasiswa sekalipun karena aktif secara koleftif. Dengan demikian kita bisa mewujudkan mimpi kita sebagai anak organisatoris untuk kampus yang demokrasi dan transparansi karena hal ini merupakan bagian perjuangan kelas yang revolusioner dari kita mahasiswa yang bergerak.
AYO BERGERAK TEMAN-TEMAN MAHASISWA UNIVERSITAS TIDAR!!!




Referensi :


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Aku Ingin Seperti Kalian! NKRI HARGA MATI!!"

Posting Komentar