Kekuatan dan Kerapuhan Respon Asia Tenggara terhadap Wabah Covid-19

Oleh: Amy Searight (Center for Strategic and International Studies)


Vietnam telah mengandalkan mobilisasi lingkungan dan pendekatan sosial, serta pengawasan pada penduduknya. Sejak awal pandemik terjadi, Vietnam menutup usaha-usaha dan sekolah diliburkan, serta memberlakukan karantina skala besar. Seluruh provinsi Vinh Phuc di selatan Hanoi, melakukan 21 hari karantina sejak 13 Februari, dan ribuan penduduk telah ditempatkan dalam ‘kamp karantina’ yang dijaga militer. Keagresifan monitoring Vietnam dan pengawasan pada penduduknya telah di dukung oleh seluruh jaringan pemerintahnya, yang telah membantu mengidentifikasi dan mengkarantina orang yang disangka terinfeksi, juga yang telah melakukan kontak dengan mereka. Pemerintah juga memobilisasi dokter dan perawat yang telah pensiun untuk bersama memerangi virus, bersamaan dengan beberapa wirausahawan yang membangun ‘ATM beras’ supaya masyarakat tidak perlu pergi bekerja. Vietnam telah melewati epidemik dengan sangat baik, hanya dengan angka 268 kasus dari populasi 95,5 juta orang, tanpa adanya berita kematian.

Singapura selama seminggu yang lalu telah membalikkan status Singapura menjadi pemimpin dunia dalam menampung wabah virus corona. Pada Senin 20 April, Singapura melaporkan 1426 tambahan kasus baru, rekaman hariannya melonjak dan menaruh Singapura diatas Indonesia dalam kasus terkonfirmasi negara Asia Tenggara. Sebagian besar kasus barunya adalah pekerja asing yang hidup dalam satu asrama yang ramai dengan kamar mandi dan dapur yang dipakai bersama- itu seperti sebuah kunci yang tidak diperhatikan pemerintah. Saat ini pemerintah secara acak menampung wabah itu dengan menutup asrama-asrama dan merelokasikan beberapa pekerja untuk mengurangi keramaian. Dari kesalahan Singapura untuk memfokuskan para pekerja di asrama sejak awal sebagai titik utama potensi infeksi, kita dapat menggarisbawahi bagaimana prioritas pemerintah dapat menuntun kita pada titik buta, atau alasan alasan tak terduga, membuat penduduk Singapura sangat rapuh untuk melawan wabah saat ini.

Selain itu, dengan tindakan awal mendeteksi wabah yang dilakukan Filipina dan Kamboja yang lambat, tetapi juga secara terus menerus menyepelekan resiko. Presiden Rodrigo Duterte dan Perdana Menteri Hun Sen bangga dengan relasi dekat mereka kepada China, dan kedua pemimpin itu mengabaikan tugasnya pada awal deteksi wabah untuk menghilangkan perhatian pada virus lalu mengambil resiko dengan tetap melakukan transaksi dan pengiriman ke China. Hun Sen menolak untuk mengevakuasi pelajar Kamboja dari Wuhan dan mencaci para jurnalis yang memakai masker saat konferensi pers. Hun Sen bahkan bepergian ke Beijing untuk bertemu Xi Jinping pada awal Februari atas dasar solidaritas, membuatnya menjadi pemimpin asing pertama yang mengunjungi China sejak wabah virus di Wuhan terjadi.

Di Filipina, President Duterte mengejek mereka yang terlalu memusingkan pembatasan sosial, dengan mengatakan pada salah satu audiens, ‘Kamu terlalu takut dengan wabah corona ini. Wabah itu perlu waktu lama dan butuh banyak korban. Jangan mau dibodohi dengan percaya pada apa yang diberitakan.’’  Dan beberapa hari kemudian Duterte memberikan ocehan di media televisi yang mengumumkan lockdown di Metro Manila, yang merupakan kota terbesar di dunia, juga seluruh pulau Luzon. Ini pun diikuti dengan banyaknya ketidakjelasan pemerintah tentang pengumuman implementasi karantina nantinya, yang mengakibatkan kebingungan publik dan kerusuhan seperti yang terjadi di Metro Manila, penduduk mencoba mempersiapkan jam malam dan penjagaan ketat pada perjalanan para penduduk. Duterte mengerahkan polisi dan militer untuk menjalankan jam malam, dengan perintah ‘tembakan mati’ bagi yang melawan. Jam malam yang diberlakukan telah membuat penduduk miskin di Metro Manila semakin sulit, dengan ribuan orang yang ditangkap karena melanggar jam malam. Minggu lalu Duterte mengancam untuk melakukan tindakan yang lebih keras seperti ‘darurat militer’ sesuai ucapannya pada media televisi nasional. Meski begitu, ini dirasa sudah terlambat untuk dapat dikatakan efektif, karena kasus virus corona saat ini merebak di Filipina, membuat rumah sakit yang ada seperti kelebihan muatan dan tidak dapat menangani lagi.

Indonesia juga menjadi salah satu negara yang lambat dalam merespon wabah. Pemerintahan Jokowi telah dikritik karena pengambilan keputusannya yang tidak terkoordinasikan dengan baik, serta minimnya komunikasi yang tidak efektif tentang kebutuhan dalan pembatasan sosial. Sudah sering sekali terdapat ketidakjelasan tentang siapa yang bertanggung jawab atas ini, dan di satu sisi pemerintah keliru ketika melindungi perekonomian dengan ketentuan yang ada, padahal beberapa orang di pemerintah juga ketakutan dengan kondisi ekonomi penduduk yang dapat memburuk. Indonesia telah menjadi salah satu wilayah persebaran virus, dan negara ini kini memimpin wilayahnya dalam hal angka kematian, dengan korban yang masih secara substansial tidak dilaporkan, bahkan di Jakarta sekalipun. Hal ini dapat melaju cepat pada minggu minggu yang akan datang, karena jutaan rakyat Indonesia mempertimbangkan tentang pulang kampung tahunan atau mudik pada akhir Ramadhan. Pemerintahan Jokowi memutuskan untuk tidak melarang mudik karena alasan pertimbangan perekonomian, meski pemerintah daerah dan ahli kesehatan memiliki ketakutan apabila pergerakan massa orang-orang dalam jumlah besar dari kota besar menuju desa dapat mempercepat persebaran virus. Namun, pemerintah sedang dalam pencarian untuk menghilangkan keinginan bepergian orang orang, dengan banyaknya poling pertanyaan tentang seberapa banyak peringatannya tersampaikan.

Sementara itu Myanmar sepertinya menyangkal wabah ini sampai pada pertengahan Maret, saat pemerintah muncul dengan sugesti bahwa Myanmar bagaimanapun kebal terhadap virus corona meski berada dalam hubungan kuat dengan China. Juru bicara pemerintah Zaw Htay mendeklarasikan bahwa negara ini tidak memiliki kasus virus, sebagaimana dengan ‘gaya hidup sehat dan pola makan’ rakyat Myanmar sebanding dengan keuangan dan transaksi perekonomian mereka. Pemerintah Myanmar juga mengancam untuk menghancurkan berita palsu di media dan sosial media yang tidak sepaham dengan pemberitaan pandemik dari pusat. Sementara itu, bersamaan dengan ribuan pekerja asing di Myanmar yang kembali ke desanya di Thailand, virus corona mulai tersebar, dimulai dari 107 kasus terkonfirmasi pada 20 April-sebuah angka yang dapat dimaklumi dari tes yang dilakukan(lebih dari 4000 orang yang dites, lonjakan besar dari 80 tes minggu lalu, namun tetap pada porsi kecil dibandingkan populasi 54 juta orang). Ketakutan telah tumbuh bahwa Myanmar dapat memilkki penderitaan moral yang luar biasa dalam menghadapi wabah yang terjadi. Meski muncul di permukaan bumi sekitar satu dekade lalu, yang kemudian mengantarkan perkembangan perekonomian dunia dengan baik, Myanmar tetaplah negara berkembang, dan kepedulian kesehatannya adalah yang terburuk di dunia, setelah menderita bertahun tahun dengan mengabaikan peraturan militer. Rumah sakit disana tidak dilengkapi dengan masker dan alat perlindungan diri, serta banyaknya desa yang kekurangan air, membuat bahkan tidak bisa mencuci tangan. Perhatian pada hal ini lebih baik kepadapengungsi internal dengan akses terbatas ke pusat kesehatan yang meluap di Rakhine, Kachin, dan daerah utara Shan.

Thailand menawarkan sebuah model berupa aspek terbaik dan terburuk dari penanganan Covid-19 di Asia Tenggara. Meski publik mengkritisi respon pada awal yang kurang bagus ditengah krisis, pemerintah Thailand membuat gertakan di akhir Maret saat Perdana Menteri Prayuth mengumumkan salah satu lockdown nasional secara luas di daerah dan mendeklarasikan darurat tenaga. Pemerintah mentiadakan festival air Songkran, peringatan tahun baru nasional, dan melarang alkohol nasional. Bagaimanapun alasan Thailand menonjol sebagai pemimpin daerah dalam penanganan wabah, mungkin tetap harus melakukan kepedulian terhadap kesehatan dan investasi dalam kapasitas keamanan kesehatannya, di berbagai tempat sepertu monitoring dan pelacakan kasus yang terinfeksi penyakit, pelatihan epidemiologikal, tes labolatorium, dan pelaporan pengawasan elektronik. Kemampuan pusat kesehatan dan keamanannya menjadikan Thailand sebagai yang keenam dari 13 negara teratas yang memiliki pemasukan diatas rata-rata dan pemimpin yang jelas di Asia. Dan benar, kapasitas Thailand dalam menghadapi wabah terbayarkan, dengan menurunnya kurva selama dua minggu terakhir dengan rata rata angka harian yang tadinya tetap.

Namun, respon Thailand dalam wabah, sebagaimana pemimpin menggunakan krisis ini sebagai kesempatan untuk memberikan diri mereka kekuatan besar yang dengan tajam membatasi kebebasan penduduk dan dapat digunakan untuk menahan perbedaan pendapat dan oposisi politik. Bersama dengan adanya pembatasan pergerakan dan perkumpulan penduduk, yang dapat dianggap memberikan penanganan kesehatan yang baik, Perdana Menteri Prayuth telah bergabung dalam tingkatan Hun Sen, Duterte, pemimpin-pemimpin Myanmar, dan Vietnam yang baru-baru inu mendeklarasikan kekuatan baru untuk memerangi berita palsu terkait Covid-19 dan respon pemerintah terhadap epidemik ini, termasuk mensensor media, sosial media, dan komunikasi personal. Di Thailand, darurat kekuatan yang baru berarti menangkap dan menahan yang terlibat dalam pemberitaan palsu yang mengkritik dengan ketakutan akan digunakan sebagai lawan politik.

Dalam tulisan ini, perhatian utama dalam krisis dampak kesehatan pada wabah besar di kota besar akan membuat rumah sakit kewalahan, meningkatkan angka kematian yang tinggi dan memimpin dampak turunnya perekonomian. Terdapat sebuah perhatian pula bahwa lockdown yang terlalu ketat dan gangguan pada pasar dalam rantai pendistribusian makanan akan menghantarkan pada kelaparan dan kekurangan gizi para rakyat miskin, yang juga akan berdampak langsung pada kekerasan politik. Orang miskin di desa mungkin situasinya dapat diatasi, namun tetap kekurangan kapasitas dalam sistem kesehatannya yang tetap akan menghadapi tantangan berat. Perhatian terakhirnya adalah gelombang kedua infeksi virus yang kita lihat di Singapura dan sebagian negara Asia yang telah terdampak sejak awal dengan kasus Covid-19 seperti Hongkong dan Taiwan.

Tingkat lonjakan infeksi Singapura setelah kesalahan pengambilan keputusan pemerintah terhadap pekerja asing memberikan kita kisah peringatan tentang kerapuhan bahkan pada sistem birokrasi yang dapat diandalkan sekalipun. Daerah harus bersiap-siap untuk gelombang gelombang infeksi selanjutnya, yang bahkan akan membuat pemerintah kesulitan menentukan strategi dan mengatasi dampak krisis ekonomi.

____________

Artikel ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Krisnaldo Triguswinri

https://www.csis.org/analysis/strengths-and-vulnerabilities-southeast-asias-response-covid-19-pandemic


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kekuatan dan Kerapuhan Respon Asia Tenggara terhadap Wabah Covid-19"

Posting Komentar