Jangan jadi Berengsek

Oleh: Arif Gilang 

mahardhika.org

Berbicara perihal pelecehan seksual, berarti kita sedang membicarakan kualitas lingkungan hidup kita. Berbicara tentangnya, juga berarti kita tengah membicarakan batasan individu satu dengan individu lain. Itu berarti kita membicarakan hal-hal konsensual sekaligus konsekuensi atasnya. Itu juga berarti kita sedang membicarakan diri sendiri; tentang bagaimana setiap individu bertanggung jawab atas dirinya sendiri secara sadar—singkatnya tentang kontrol individu.

Diskursus tentang pelecehan dan/atau kekerasan seksual memang tak pernah ada selesainya dan justru semakin berkembang. Salah satu faktornya adalah karena kurangnya kesadaran dari setiap individu mengenai batasan-batasan tentangnya. Memang secara sekilas, acapkali antara pelecehan dan ‘candaan’ hanya terlihat tipis batasannya. Semisal catcalling, tatapan  dan komentar atas bentuk tubuh (body shaming), seksisme, hingga yang jarang kita sadari, yakni, slut shaming. Namun, tidak serta merta demikian; dalam bentuk apapun, pelecehan seksual adalah hal yang serius dan harus ditanggapi pula secara serius.

Pelecehan seksual tidak peduli batasan usia maupun gender. Ia juga tidak ada hubungannya dengan orientasi seksual. Siapapun bisa saja menjadi penyintas (penulis sengaja mengganti kata ‘korban’ menjadi ‘penyintas’ sebagai satu bentuk dukungan dengan istilah yang lebih memberdayakan, bahwa mereka mampu bangkit dari pengalaman pahitnya). Sebaliknya, semua orang juga berpotensi menjadi pelaku. Pada intinya, berbicara mengenai batasan antara apakah suatu perilaku masuk dalam kategori pelecehan atau tidak, adalah bergantung pada persetujuan (consent) antara semua pihak yang terlibat, terlepas dari segala identitasnya.

Dalam berkehidupan di komunitas, hal-hal yang termasuk dalam pelecehan kerap terjadi. Namun sayang, kerap pula pelaku justru dilindungi oleh komunitas tempat ia berkegiatan dengan berbagai alasan yang seharusnya tidak dapat ditoleransi. Jika kita benar-benar menginginkan satu lingkungan hidup yang sehat, maka kita juga harus mulai sensitif terhadap diri sendiri berkenaan dengan hal ini. Dimulai dari diri sendiri, mengalir dalam pembicaraan keseharian, hingga pada akhirnya setiap individu mulai sadar mengenai betapa pentingnya diskursus tentangnya; mulai dari apa batasannya hingga apa konsekuensinya. Jika hal tersebut mampu kita bangun melalui keseharian, berbarengan dengan itu, lingkungan hidup yang benar-benar sehat akan tumbuh mengikutinya secara organik.

Hal yang tak kalah menyebalkan ketika kita bicara tentang pelecehan seksual adalah kebiasaan dari sebagian masyarakat kita yang masih kerap menyalahkan korban (victim blamming). Banyak dari kita yang justru mengomentari gaya berpakaian korban, mempertanyakan alasan korban berjalan sendirian di waktu malam, atau mempertanyakan korban memilih berjalan di jalan yang sepi, dsb. Padahal—sekali lagi—inti dari semua ini adalah tentang kontrol individu. 

Setiap orang berhak mengenakan pakaian yang ia suka dan ia rasa nyaman; tapi tak seorangpun berhak menggunakan hal tersebut sebagai dalih untuk melecehkannya. Kita juga sering lupa, jam kerja yang panjang memaksa pekerja, baik laki-laki maupun perempuan, untuk pulang malam (dengan asumsi berangkat kerja di pagi hari). Kita juga tak pernah tahu secara persis mengenai akses ke suatu tujuan, yang kadang membuat kita tak punya pilihan lain, walaupun itu tempat yang sepi dan cenderung rawan kriminal.

Ada juga yang justru menyalahkan korban dengan pertanyaan konyol, seperti, “kenapa tidak melawan? Seandainya kamu melawan, kan, tidak akan terjadi pemerkosaan?”. Padahal menurut psikologis, ketidakmampuan seseorang untuk melawan/mengelak apa yang menimpa tubuhnya secara mendadak, atau ketakutan berlebih yang membuat tubuh seakan lumpuh secara tiba-tiba bisa dijelaskan secara ilmiah. Kondisi tersebut sering dikenal sebagai “tonic immobility”. Hal yang sama dengan yang biasa terjadi pada hewan ketika akan dimangsa oleh predator.

Menurut data yang diambil dari hasil survei terhadap 62.000 orang mengenai pelecehan seksual di ruang publik ( https://www.change.org/l/id/pernah-jadi-korban-pelecehan-di-ruang-publik-kamu-nggak-sendirian ), pelecehan seksual tidak melulu diterima oleh mereka yang berpakaian terbuka, yakni, mereka yang bercelana/rok panjang (18%), berhijab (17%), baju dengan lengan panjang (16%). Sedangkan waktu kejadiannya pun tidak melulu terjadi di malam hari, yakni, siang hari (35%) & sore hari (25%). Dalam praktiknya, bentuk pelecehan seksual juga terambil data sebagai berikut: verbal (60%), fisik (24%) & visual (15%).

Lalu, apa yang mesti kita lakukan ketika teman, saudara, atau orang yang kita kenal mengalami pelecehan seksual dan memercayakan kita sebagai teman curhatnya? Mengutip tulisan Sohaila Abdulali (What We Talk About When We Talk About Rape, 2018, Sohaila Abdulali), satu-satunya sikap yang perlu kita lakukan adalah jangan jadi berengsek. 

Hal itu juga mencakup untuk jangan terlalu memperlihatkan keterkejutan atas cerita yang baru kita dengar (walaupun rasa kaget dan takut adalah hal yang wajar); percaya saja pada penyintas, karena pengalaman setiap individu adalah valid (jangan sangkal dengan kata “tapi” atau “jika”); biarkan penyintas yang menentukan langkah yang akan diambil (jangan menyetir keinginannya, cukup katakan bahwa kita akan selalu mendukungnya); tanyakan apa yang ia inginkan, namun jangan menerka-nerka; jangan tanyakan secara detail kejadian yang menimpa penyintas, cukup katakan bahwa kita bersedia mendengarkan jika penyintas ingin mengelaborasi ceritanya; jangan tanyakan keputusannya; jangan berusaha mengerti maupun menganalisa pengalaman penyintas, cukup dengarkan saja ceritanya; berlakulah seperti biasa, ingatlah bahwa sebelum dan setelah kejadian yang menimpa penyintas, ia adalah tetap manusia yang sama (penyintas mungkin juga perlu diingatkan soal ini).

Meskipun pelecehan seksual adalah satu bentuk kejahatan yang tak bisa dianggap sepele, terlebih adalah fakta bahwa semua orang berpotensi untuk menjadi korban maupun pelaku, setidaknya kita perlu tahu tentang apa yang sebaiknya dilakukan, ketika kita justru berada di posisi menjadi pelaku—secara sadar maupun tidak. Ini adalah sebagian dari upaya rekonsiliasi antara pelaku dan penyintas, tanpa melupakan sepenuhnya kesalahan dan dosa dari pelaku dalam konteks ini. 

Pertama, minta maaflah secara terbuka. Jangan gunakan kalimat “saya minta maaf karena membuatmu seperti itu”, tetapi gunakanlah kalimat “saya minta maaf bahwa tindakan saya telah menyakitimu”. Kedua, jangan defensif. Akui saja perbuatan kita, terlepas apa maksud awalnya. Bahkan ketika kita tidak ingat apa yang sudah kita lakukan, atau bahkan ketika kita tidak percaya bahwa kita bisa bertindak demikan sehingga ada individu lain yang merasa dilecehkan. Ketiga, dukung keinginan penyintas. Tanyakan apa yang ia inginkan, sehingga penyintas merasa mempunyai kekuatan, bahkan ketika keinginan tersebut berada di luar batas kemampuan kita, berterus teranglah. Keempat,carilah bantuan. Baik kepada rekan terpercaya, maupun kepada tenaga profesional. (“Kita Semua adalah Penyintas Kita Semua adalah Pelaku”, tahun tidak diketahui, CrimethInc).

Meskipun pelecehan seksual bisa menimpa siapa saja, dan pelakunya bisa siapa saja, semua itu kembali kepada diri sendiri: tentang bagaimana kita mengontrol diri sendiri. Yang pasti, jangan jadi berengsek!


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jangan jadi Berengsek"

Posting Komentar