Organio Farm: Masyarakat Urban dan Pertanian Kolektif

Oleh: Krisnaldo Triguswinri (Editor ITP

Urban Agriculture sudah bergulir sejak lama. Masyarakat di Machu Pichu membuat pupuk dengan mengumpulkan sampah-sampah rumah mereka. Air yang telah digunakan ditampung ulang dan digunakan sebagai pengairan melalui sistem drainase yang telah dirancang khusus oleh para arsitek kota pada masa itu. Secara historis, saat terjadinya Perang Dunia II di Amerika dirancang program Victory Garden, yaitu, membangun taman di sela-sela ruang yang tersisa. Program ini dipercaya menjadi cikal-bakal gerakan Urban Farming.

Program tersebut berhasil membuat pemerintah Amerika Serikat mampu menyediakan 40% kebutuhan pangan warganya. Oleh sebab itu, perhatian akan manfaat Urban Agriculture menjadi berkembang ketika masyarakat di berbagai belahan dunia menyadari bahwa semakin hari pertumbuhan penduduk semakin besar dan kebutuhan akan makanan juga bertambah, sementara luas lahan pertanian semakin berkurang. Maka Urban Agriculture diasumsikan sebagai alternatif yang dapat menjawab permasalahan terjadinya krisis pangan akibat menyempitnya lahan pertanian dan berkurangnya kehendak masyarakat urban untuk berprofesi sebagai petani.

Di Magelang, khusunya di Borobudur, beberapa teman sudah sedang menyelenggarakan Urban Agriculture sebagai fasilitas untuk menjawab permasalaham pumuda urban hari ini. Rafi, Pepi dan Afek punya kesadaran penuh yang, misalnya, pertanian urban yang mereka kelola secara kolektif tidak hanya diproyeksikan sebagai kehendak untuk membangun basis ekonomi mandiri, melainkan satu aktivitas untuk keluar dari ketergantungan terhadap pasar. Ini merupakan hasil transkrip wawancara saya bersama Rafi Setiawan menyoal Organio Farm, pertanian kolektif, dan jawaban mereka terhadap tantangan zaman serta kompetisi individual yang bengis:


Belakangan aku mendengar banyak informasi bahwa Teman-teman di Borobudur sedang giat mengorganisir urban farming. Itu apa sih sebenarnya?

Itu sebenarnya metode pertanian yang relatif baru bagi kami. Apalagi kami tidak memiliki latar belakang pertanian sama sekali. Sebenarnya simpel sih bahwa tumbuh kembang tanaman kami sama seperti tumbuh kembangnya tanaman-tenaman lainnya. Cuma kami sedang belajar caranya merekayasa iklim dan sebagainya agar tidak terlalu bergantung dengan alam (climate change & global warming). Sebagian tanaman kan masa tumbuhnya bergantung pada cuaca, tapi karena kita menggunakan pola green house otomatis itu terintegrasi.

Intinya, pertanian model urban farming itu, juga merujuk pada pertanian organik. Jadi kita tidak menggunakan pestisida sama sekali. Dalam urban farming kami, media yang paling penting hanyalah vitamin dan air. Vitamin tersebut juga kita pilih yang organik; dari kompos dan olahan kotoran hewan. Pertanian yang semi konvensional dalam rangka belajar memanipulasi iklim agar tumbuhan itu tetap sehat tanpa memerlukan bahan-bahan kimia.

Nama urban farming atau green house ini apa deh?

Kita menyepakati ini dengan nama Organio. Pertama, Organio tercetus karena sejak awal kami bersepakat mengorganisir pertanian kolektif yang organik. Kita menyomot kata organ dari kata organik dan nio yang berarti neo atau new, yaitu, satu terminologi kritis; baru. Nio atau baru ini kami asumsikan sebagai keterangan bahwa kami melakukan aktivisme yang baru pula. Karena sebelumnya saya, Afek, dan Pepi terlibat dalam agenda sosial dan gerakan mahasiswa. Maka, kami sedang coba-coba satu aktivitas  yang baru.

Sejauh ini progress pembangunan proyek kolektif Organio sudah sampai mana?

Terakhir, kami memasang insect net yang bertujuan melindungi tanaman dari gangguan hama. Kalau progress untuk tumbuh-tumbuhannya, kami kemarin sudah menanam pohon min. nantinya, kami akan menanam sayuran organik dalam kuantitas yang cukup besar.

Ada berapa lubang tanam?

Kalau media yang datar dan memanjang ada 440 lubang tanam. Kalau yang model bertingkat ada 28. Model yang bertingkat ini kami adopsi dari kebiasaan pertanian rumahan orang-orang kota.

Kan ada Rafi, Afek dan Pepi. Bagaimana pola kolektif Organio ini?

Kita menggunakan sistem swadaya sih sebenarnya. Karena dari awal kami ingin sekali melakukan satu kegiatan yang baru. Kegiatan yang, misalnya, tidak menanggalkan idealisme kami, tetapi bisa menghidupi kehidupan harian kami. Bingung gak tuuh? Dengan kata lain, ada sedikit profit dalam urban farming ini.

Tetapi kami tidak ngoyoh. Punya uang sekarang kami jalan, bila sedang krisis kami tunda sejenak prosesnya. Karena ketika memutuskan untuk membangun ini, kami tidak memiliki basis ekonomi sama sekali. Kami membeli bahan dengan uang tabungan kami masing-masing, membersihkan lahan, meratakan tanah dan memotong besi dengan tenaga kami sendiri. Merakit instalasi tanpa menyewa tukang, dll. Jadi kami benar-benar menikmati prosesnya dari awal.

Kedua, kami ingin berpengalaman. Bagaimana sih dari awal kami kesulitan membangun proyek kolektif ini. Selain ingin benar-benar merasakannya, kemandirian semacam itu juga relevan dengan filosofi Organio. Jadi selain menjadi petani, kami juga menjadi tukang dalam waktu yang bersamaan.

Pertanyaan yang paling menarik. Mengapa teman-teman memilik menjadi petani. Setahu aku, kalian lama bergiat dalam aktivisme sosial. Kenapa akhirnya memutuskan bertani?

Pertama, kami tidak sepenuhnya mengganti kegiatan yang pernah bergulir sebelumnya. Karena ketika kami menanam, minimal kami tahu apa yang selama ini kami makan. Oh, sayur itu mengelolanya seperti ini. Oh, kalau kita mau sehat berarti sayurnya harus yang organik. Kedua, kami kan sekarang masih kuliah, ya. Dan kalau kami menggeluti usaha overall yang setiap saat kami harus disitu, kami belum ada waktu. Tapi kalau merawat tanaman, kami bisa. Karena tumbuhan itu kan sama dengan kita berdua, mereka juga hidup; kami merawat sesuatu yang hidup. Maka tidak perlu perawatan yang berlebihan seperti benda mati.

Melihat teman-teman muda sekarang yang sedang gencar-gencarnya ingin mandiri; ingin mencari pengalaman yang berbasis pada ekonomi kreatif; tidak bergantung pada pasar; dan tidak diperbudak, menjadi keinginan kami pula. Di Magelang, khususnya di Borobudur, tidak banyak yang punya keinginan menjadi petani. Kami memutuskan menjadi petani karena sebagian dari kehidupan harian kami tidak terlepas dari kebutuhan pokok yang disokong oleh makanan. kami tidak punya rasa gengsi sama sekali ketika memutuskan diri menjadi petani.

Apakah yang teman-teman lakukan ada kaitannya dengan kemandirian pangan? Belakangan kita tahu bahwa Covid-19 menghancurkan seluruh aktivitas kehidupan manusia yang berdampak pula pada terjadinya krisis pangan. Banyak orang belakangan kesulitan mengakses bahan pangan dalam rangka mencukupi kebutuhan harian mereka. Kamu melihat fenomena ini sepeti apa deh?

Sebagian besar ada relasinya. Tapi bukan sepenuh-penuhnya untuk kemandirian pangan. Karena kalau kita ingin sepenuh-penuhnya berorientassi pada kemandirian pangan, maka kita tidak akan berorientasi pada profit. Sejujur-jujurnya kami masih mengorientasikan pertanian kolektif ini pada profit. Tetapi apa relasinya dengan fenomena yang terjadi akhir-akhir ini? Covid-19 ini membuat orang-orang sadar bagaimana caranya hidup sehat; bagaimana mencari sayur yang organik, mulai menjaga pola makan sehat, menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan, dll. Selain itu, tentu kami ingin mencukupi kebutuhan makan orang-orang sekitar kami. Bukankah makan adalah hak dasar setiap orang?

Pendapat kamu tentang pemuda yang lebih memutuskan bekerja sebagai pekerja kantoran dan bukan petani seperti apa?

Kalau aku dan teman-teman sebenarnya berangkat dari keyakinan bahwa ketika kita melakukan kegiatan yang mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain, maka kita akan memaknai dan menikmati sendiri setiap kegiatan yang kita lakukan dan bukan berlomba-lomba untuk saling sikut-menyikut. Apalagi kehidupan manusia modern yang mudah insecure hari ini, kita semua dibuatnya terlalu mudah memandingkan diri dengan pencapaian-pencapaian orang lain. Oleh sebab itu, kami menolak perlombaan dalam kehidupan. Sebenarnya sesimpel itu sih.

Produksi yang bisa kami produksi sendiri. Jangan bergantung dengan pasar, hehe.

Kalau bicara pasar, teman-teman sudah punya pasar gak untuk mendistribusikan hasil produksi teman-teman pasca-panen nanti?

Kalau market sudah ada. Karena kami kebetulan membuat lahan di Borobudur dan disini kan menjadi tempat pariwisata yang sangat menjanjikan. Apalagi disini banyak sekali restoran dan hotel yang membutuhkan sayur-sayuran organik. Tapi kami santai sih, kalau ada yang mau beli, ya silakan. Tapi kalau enggak ya, kami bisa konsumsi sendiri.

Kemaren juga kami sudah jalan-jalan ke café-café punya teman-teman di Magelang dan mereka memesan sayuran-mayur untuk cafenya pada kami. Ya, kami senang sekali. Di satu sisi, kami bisa mengantar hasil sayuran organik kami ke café. Di sisi yang lain, kami sekalian bisa main.

Pertanyaan ini khusus buat Rafi secara personal. Apakah Rafi akan meninggalkan aktivitas-aktivitas sosial Rafi?

Emmm, kalau secara pribadi aku tidak ingin meninggalkan aktivitas sosial itu. Pertama, dari diriku sendiri. Kedua, karena lingkaran pergaulan aku adalah lingkaran pergaulan yang memiliki irisan dengan aktivisme sosial. Ketiga, aku tidak akan menanggalkan keyakinan aku terhadap humanisme universal. InsaAllah, Organio ini menjadi tahap awal untuk merawat daya kritis aku sebagai manusia. Aku juga ingin buat Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di Borobudur. Aku melihat Borobudur ini tidak hanya pada arus deras pariwisatanya doang, tapi juga arus investasi dari luar juga besar sekali. Takutnya ketika terlalu massif dan masyarakat lokal di Borobudur belum siap berhadapan dengan kompetisi itu, aku khawatir warga lokal menjadi tersingkir. Jadi niatku adalah mengedukasi masyarakat di Borobudur dengan menggunakan fasilitas hukum.

Apa pesan terakhir Rafi?

Lakukan apa-apa yang kalian anggap relevan. Bergerak, mandiri dan tetap bertahan pada kolektivisasi.

 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Organio Farm: Masyarakat Urban dan Pertanian Kolektif"

Posting Komentar