Keluarga Mahasiswa (KM) Universitas Tidar in Nutshell: Good consept, bad execution

Oleh: Septian Yoga Prabowo (Mahasiswa Administrasi Negara Untidar)


“Kampus merupakan miniatur negara.” maka kadang rancunya sama walau tidak seberdampak di Negara, but still funny to discuss (gibah).

Keluarga menurut KBBI adalah satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat, mahasiswa menurut KBBI adalah orang yang belajar di perguruan tinggi. Sehingga ku tarik kesimpulan Keluarga Mahasiswa merupakan sekumpulan orang yang belajar dan (harusnya) berkerabat di lingkungan perguruan tinggi.

Sedangkan definisi Keluarga Mahasiswa menurut Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia (FL2MI), keluarga mahasiswa merupakan bentuk pemerintahan mahasiswa yang mengutamakan asas musyawarah dalam menyelesaikan masalah / sengketa, keputusan tertinggi diputuskan melalui musyawarah / kongres mahasiswa. Penjelasan lebih jauhnya, dari segi koordinasi hubungan antar lembaha mahasiswa / hubungan dari lembaga mahasiswa di tingkat Universitas ke tingkat Fakultas dan Jurusan dalam bentuk pemerintahan KM/KBM adalah koordinasi. 

Padahal koordinasi ini yang paling sering disepelekan dalam implementasi lapangan diberbagai tingkat di Universitas Tidar.

Marihot Manullang mendefinisikan, Koordinasi adalah usaha mengarahkan kegiatan seluruh unit-unit organisasi agar tertuju untuk memberikan sumbangan semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan organisasi secara keseluruhan dengan adanya koordinasi akan terdapat keselarasan aktivitas diantara unit-unit organisasi dalam mencapai tujuan organisasi. Sedangkan menurut Edgar H. Schein, “Organisasi adalah suatu koordinasi rasional kegiatan sejumlah orang untuk mencapai beberapa tujuan umum melalui pembagian pekerjaan dan fungsi melalui hierarki otoritas dan tanggung jawab”. Sehingga dalam pengertian tersebut organisasi dan koordinasi merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dan merupakan salah satu komponen dalam fungsi manajemen organisasi yaitu planing, organizing, staffing, leading, motivating, directing, fasilitating, empowering, and controlling.

Sedangkan hal mengenai koordinasi ini merupakan pengetahuan dasar yang seharusnya diketahui oleh seorang mahasiswa ketika ikut sebagai partisipan organisasi Keluarga Mahasiswa Universitas Tidar baik ditingkat terkecil seperti pengurus angkatan di program studi/jurusan hingga ketua BEM KM/DPM KM Universitas Tidar.

 Permasalahannya kenapa disorganisasi ini terjadi secara berlarut?

1.   Pimpinan Ormawa tidak memiliki pemahaman mumpuni mengenai manajemen organisasi. Sehingga menimbulkan kekacauan baik di internal organisasi yang berdampak keluar organisasi ataupun kekacauan di eksternal organisasi itu sendiri.

Dalam buku “Leadership Code – 5 rules to lead by” yang ditulis oleh David Ulrich, ada 5 peraturan ketika menjadi pemimpin, 1) Shape the future, 2) Make things happen, 3) Engage today’s talent, 4) Build next generation, 5) Invest in yourself.

Dalam memilih pimpinan ormawa diperlukan 5 pemahaman tersebut sehingga menghindari (atau setidaknya mengurangi) berbagai permasalahan sepele baik di internal maupun eksternal organisasi.

2.   Ego Sektoral, menurutku  ego sektoral bisa terbentuk melalui dua cara: kepemimpinan yang buruk atau budaya buruk yang telah mengakar dalam organisasi tersebut. Bahkan dalam artikel Mike Myatt mengenai “15 ways to identify bad leaders” salah satu poin didalamnya juga membahas mengenai kultur/budaya yang buruk akan mempengaruhi pemimpin tersebut dalam mengambil keputusan. Kultur itupun bisa karena adanya kepentingan tertentu dalam kelompok-kelompok yang ada. Biasanya dipicu adanya karena kelompok “yang sedang berkuasa” dan kelompok “yang ingin berkuasa”, berakibat kelompok “yang sedang berkuasa” lebih mengedepankan keuntungan sendiri dan kelompoknya tanpa berpikir untuk kemaslahatan bersama.

Seberapa dampaknya?

Dengan kesibukan mengurus “rumah” sendiri cenderung condong lupa bahwa kita berada didalam suatu tatanan struktur sosial lebih besar daripada hanya sekedar “rumah”.

Dengan semakin suburnya ego sektoral dalam tubuh KM UNTIDAR maka semakin menjauh dari esensi “Keluarga Mahasiswa” itu sendiri, karena pada akhirnya lebih memilih kompetisi tidak sehat antar sektor dibandingkan berkolaborasi untuk mencapai suatu tujuan yang tertulis dalam GBHK yaitu mencapai tujuan pendidikan nasional alias sama-sama pinter.

3.  Minimnya pemahaman tentang tanggung jawab. Kolaborasi akan berhasil ketika setiap individu dalam kelompok memiliki kesadaran akan tanggungjawab dengan tugasnya. Dengan lahirnya kesadaran akan tanggungjawab disektor terkecil yaitu kelompok, maka makin lama kelompok satu dengan kelompok yang lain memiliki kesadaran dan merasa memiliki tanggung jawab yang sama untuk melakukan suatu kolaborasi demi mencapai tujuan bersama dan menghilangkan adanya jiwa free rider alias penumpang gratisan.

“people need to be responsible individuals first before you expect them to be a responsible in group”.

4.   Rancunya pemahaman fungsi dan tujuan Kongres KM, perlu disadari bahwa fungsi dan tujuan Kongres KM itu bukan hanya berdebat mengenai apa-apa saja yang harus diatur (pengubahan AD/ART/GBHK/PPO), namun perlu dipahami juga bahwa suprastruktur dan suprasistem yang perlu dikelola sedemikian rupa yang tentunya membutuhkan kesadaran, partisipasi dan komitmen antar sektor sehingga terjadilah kolaborasi.

Menurutku perlu adanya suatu perubahan yang massif dan terstruktur dalam pemahaman fungsi dan tujuan Kongres KM sehingga dapat memberikan suatu output yang lebih baik, entah itu berbentuk suatu peraturan (yang tidak tumpang tindih tentunya) atau suatu kebijakan rencana strategis baik dari tingkat Universitas hingga Himpunan.

5.   Makin terlihatnya “crab mentality syndrome” dalam banyak sektor ormawa UNTIDAR, penjelasan menurut Loretta G. Breuning dalam artikel “When others hold you back”. Crab Mentality adalah analogi dari suatu perilaku egois dan iri terhadap kesuksesan individu/kelompok lain, sehingga dengan berbagai cara mencoba untuk membuat individu / kelompok lain tidak berkembang dan tetap berada di level yang sama sehingga timbulah simbiosis Amensalisme. Beberapa faktor yang mengakibatkan sindrom ini terjadi adalah adanya sifat cemburu, merasa malu, dendam, harga diri yang rendah, dan sifat kompetitif yang destruktif.

6.   Minimnya subjek demokrasi selanjutnya yaitu pengawasan, baik secara internal maupun eksternal organisasi. Pengertian internal disini merujuk kepada sesama anggota/staff dan atau pimpinan ormawa itu sendiri. Sedangkan eksternal organisasi merupakan individu/organisasi lain diluar organisasi tersebut.

Kita pun perlu realistis dalam penyelenggaraan organisasi mahasiswa, ditingkatan pimpinan ormawa sendiri tidak semua pimpinan organisasi mahasiswa yang terpilih maju melalui kesadaran dia sendiri, dari hal tersebut akan berdampak kepada ormawa yang dia pimpin diluar itu akan berdampak pula kepada konstituen yang dia naungi. Dari sisi anggota sendiri tidak semua anggota organisasi yang mendaftar di organisasi mempunyai tujuan jelas mengapa dia mengikuti suatu organisasi tersebut, tidak memiliki gambaran jelas perihal apa yang akan dia lakukan saat ini ataupun yang akan dilakukan kedepannya.

Dan juga secara universal, hakikatnya mengikuti organisasi mahasiswa baik dilingkup internal maupun ekstra kampus merupakan kerja sosial yang tidak bertujuan untuk mendapatkan suatu keuntungan materil, serta hanya didasarkan kepada kesadaran dan kepedulian sosial sehingga sangatlah sulit ketika kita berekspetasi bahwa semua yang berada didalam ormawa akan mau melakukan dedikasi yang sama (biasa kita kenal dengan kata professional).

Oh iya, selamat merayakan konstelasi Pemilihan Raya Mahasiswa Universitas Tidar.

Those who stand at the top determine what's wrong and what's right! This very place is neutral ground! Justice will prevail, you say? But of course it will! Whoever wins this war becomes justice!" -  Donquixote Doflamingo


Referensi:

Manullang, M., 2005. Dasar-dasar manajemen. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Schein, E. H., 2004. Organizational Culture and Leadership. Jossey-Bass, San Francisco, CA.

Ulrich, D., Smallwood, N. , & Sweetman, K. 2009. The Leadership code: five rules to lead by, Harvard Business Press. Boston, Mass.

Loretta G. Breuning, 2019. https://www.psychologytoday.com/us/blog/your-neurochemical-self/201903/when-others-hold-you-back

Mike Myatt, 2012. https://www.forbes.com/sites/mikemyatt/2012/10/18/15-ways-to-identify-bad-leaders/?sh=5cf1b3e615da


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Keluarga Mahasiswa (KM) Universitas Tidar in Nutshell: Good consept, bad execution"

Posting Komentar