Krisnaldo, Buku dan Keliaran Intelektual

 Oleh: Niko Ruma Azizi (Mahasiswa Hukum)



Aku bingung untuk mengawali tulisan ini. Mungkin kamu juga tahu, bahwa aku tipe orang yang sulit untuk mengawali, tetapi mudah untuk mengakhiri. Saat ini, aku sedang duduk di teras rumah, tidak lagi di tempatnya Bang Goko, D/MI KOPI, atau tempat-tempat lainnya yang sering kita jadikan tempat berbagi kisah. Di tengah penatnya hidup, pertarungan hati dan pikiran, pertarungan coli literasi dan gerakan. Ya, aku cukup penat malam ini. Kendati, “demi persahabatan” sebuah ungkapan yang sering Krisnaldo ulang-ulang itu, aku menuliskan pertemanan kita. Itu saja, jika kamu menganggapku teman.

Sejenak aku akan menengok ke belakang demi mengingat apa-apa yang mungkin aku lupakan; bisa juga disebut mendaur ulang ingatan. Sebelumnya, perlu diketahui bahwa aku bukanlah mother board yang apapun terjadi tercatat dalam memori, dan dengan mudah mampu diingat kembali, ya, aku tak sespesial itu, pun aku bukan O’brien yang mampu mengingat masa kecilnya dengan sangat tepat. Aku hanyalah manusia yang tentu tidak akan kalah keren denganmu.

Seingatku, awal aku berkenalan denganmu, ketika aku menulis soal Feminisme. Kemudian aku meng-upload di Blog pribadiku. Andai dulu aku tidak menulis atau menulis tapi tak pernah selesai. Mungkin, saat ini kita belum tentu saling mengenal. Dan tidak bisa saling menengguk Anggur dalam setiap pertemuan.

Ncis, ya, nama sapaan Krisnaldo yang sampai detik ini aku sama sekali tidak mengetahui dari mana usulnya nama sapaan tersebut. Kendati demikian, pembaca dapat survei bahwa hampir satu kampus Tuguran mengetahui nama sapaan tersebut. Ya, Ncis. Aku tak pernah menyangka bisa berkenalan dengan Bomber satu ini, yang bagi kebanyakan orang dikenal sebagai Sang Pemberontak. Namun hal itu tidak berlaku dalam kepalaku. Dia bukan benar-benar pemberontak. Masalahnya, ia tunduk pada sikap fasis. Siapa lagi kalau bukan ibunya. Fasis disini diartikan sebagai sifat yang mau tidak mau harus ditaati. Tidak bisa tidak. Memang, Ncis, ini adalah sosok yang sangat-sangat sayang kepada ibunya. Dan mungkin teman dekat ia pun akan sependapat denganku.

Kalau tidak percaya, suruh Si Ncis ini minum anggur di depan ibunya.

Aku selalu mendegar cerita tentangnya. Entah mulai dari dirinya sendiri dengan mengirimi aku video, lalu menceritakan apa yang sedang terjadi pada waktu itu, entah dari mulut ke mulut, atau malah kabar burung yang hanya desas-desus belaka. Ya, dari ragam sumber cerita yang tak terhitung itu, aku kagum sekaligus menaruh harapan untuk dapat melampaui dirinya.

Dari berbagai sekumpulan dan/atau kebanyakan cerita yang aku dapat tentang dirinya, adalah soal perlawan. Siapa saja. mulai dari Birokrasi Kampus, Petinggi Daerah, maupun Badan Pusat Negara. Baik, it’s okay, all is well. Perlawanan seperti ini, mungkin mayoritas orang mampu melakukannya. Akan tetapi jika yang dimaksud melawan adalah mengkoordinir semua lini, mempropagandakan seruannya, hingga yang pasif, hatinya ikut tergerak melakukan pemberontakan, Aku pikir, sedikit orang yang mampu melakukan itu semua.

Aku cukup kaget sekaligus pengin mbajing-mbajingke ketika mendapatkan informasi bahwa, Ncis, ini pernah menuliskan vandalisme yang sangat-sangat provokatif, menantang baku hantam dengan dosen. Sebentar jangan dipotong dahulu. Ncis ini menantang dosen baku hantam di luar instansi tanpa embel-embel mahasiswa dan dosen. Ya, ala-ala street war gitu. Untuk istilahnya yang benar seperti apa, jujur aku kurang paham. Tapi, semoga saja kalian paham maksutku. Yang lebih mengejutkan lagi, Dosen yang ia tantang adalah dosen yang bagi kebanyakan Mahasiwa adalah Dosen yang Killer. Dan Beliau sekarang sedang mengajarku di semester ini.

Dosen yang dikenal oleh mahasiswan cukup Killer, yang mana ia menyebut dirinya sendiri: “saya pembunuh darah dingin,” oleh Krisnaldo ini malah diajak berantem dan divandal dengan kata-kata yang sangat provokatif. Tidak heran jika kuliahnya, Ncis, sering menuai kebuntuan oleh atasan kampus. Hla wong sistem kampus yang bagi kebanyakan mahasiswa ditaati, kok, malah dilawan. Fyi, Ncis ini sangat bersahabat dengan konflik.

Sebagai pengingat, dan sangat perlu diketahui, bahwasanya aku menulis ini sama sekali tiada maksud untuk menjilat pantat Krisnaldo Triguswinri.

Aku pernah mendengar dari seseorang yang aku temui ketika sedang ngopi disebuah kedai yang sangat jauh dari perkotaan. beliau merupakan seorang bapak-bapak. Beliau mengatakan bahwa “untuk menjadi seorang idealis dalam usia berapapun, atau bahkan untuk selamanya, paling tidak kamu harus memilih tiga komponen ini. Pertama, basic ilmu yang dikuasai secara optimal; kedua, kebebasan finansial; dan ketiga, yakni, mempunyai massa yang loyal dengan anda”. Secara reflek saya hanya mangut-mangut sembari memahami pesan surat serta tersirat dari bapak ini.

Ketika dalam perjalanan pulang menuju kost-an, hingga sampai detik ini pun aku masih selalu memikirkan pesan-pesan kalimat yang terucap dari mulut bapak itu. Lantas aku menyandingkannya dengan, Ncis, ini. Sampai-sampai aku selalu iri dengan Krisnaldo. Aku selalu berpikir bahwa, dia, si Ncis, ini memiliki ketiga komponen tersebut. Secara tak sadar pula aku mencocokologikan tiga komponen tersebut dengan keberanian Ncis membuat vandal provokotif pada Dosen, memboikot Dies Natalies Kampusnya. Ya, aku selalu iri dan selalu ingin melampauinya.

Dengan rekam jejak yang bagi kebanyakan orang buruk, mulai dari melawan sistem yang ada, melakukan pemberontakan pada siapapun yang menindas orang yang lemah, melakukan hal provaktif dan beberapa macam perlawanan melalui pemikiran otentik lagi konkrit. Hal itu hanya mampu dijangkau bagi orang-orang yang belum atau tak pernah mau melebur dengan dirinya. Jika kalian telah melebur dengan dirinya, kalian akan menyesal. Lihatlah keberanian-keberanian yang telah ia lakukan di Kampus. Itu tak berlaku ketika di lingkungan luar kampus. Ncis itu cengeng, ia pemalu, ia bucin, dan ketika telah berpasangan, sisi revolusionernya menggkerut. Mengkerut seperti ti*id ketika kedinginan.

Ncis adalah sosok yang ramah, sejauh yang aku kenal, dan aku prediksi akan selamanya seperti itu. Ia merupakan pribadi yang senang berkelakar dengan semua orang. Kecuali aku, sepertinya. Jauh dari itu, Ncis, merupakan pribadi yang sangat sensitive dengan ketidakadilan yang melekat pada tiap-tiap rongga kehidupan. Ia selalu marah jika melihat orang kelaparan di pinggir jalan sedangkan dirinya merasa kekenyangan, ia merasa getir ketika mendengar penggusuran lahan. Nampaknya rasa getir dan marah tersebut tidak akan hilang selama kepentingan birokrasi dengan hak rakyat tak kunjung menikah, atau dalam tulisannya perselingkuhan kekuasaan dan modal.

Aku selalu senang berdiskusi denganmu, entah di rumahmu sembari meneguk anggur atau ice land, entah di D/MI hingga Bang Goko rela mengulur jam tutup Caffe-nya hingga adzan shubuh. Aku selalu senang, hingga saat ini, aku selalu merindukannya. Aku selalu ingin menuntutmu cepat-cepat pulang dan bermain ke Magelang. menanggalakan segala tugasmu, segala aktivitasmu yang seringakali kau keluhkan, menanggalakan segala perbucinanmu, dan kita melakukan konsolidasi lalu berdemonstrasi bersama lagi. Aku cemburu dengan Isti.

Aku tidak sedang membual macam politisi, aku juga tidak sedang menjilat pantat macam orang brisik yang digerakan oleh istana. Aku hanya sedang menulis dengan merdeka, dengan kekaguman dan penyesalan yang ada. Memang diatas aku tak menulis tentang penyesalan. Setelah paragraf ini aku akan menulis kekesalan lagi penyesalanku dengan dia.

Benar, Bang. Aku ada rasa kesal lagi menyesal. Itu terjadi karena hal sepele. Tapi bagiku tidak. Kau berjanji dan mengatakan kepadaku bahwa engkau akan membantu aku dan teman-temanku di kampus untuk tetap kuliah, meski kondisi ekonomi sulit. Ya, kamu berjanji akan membantu temanku membayar UKT. Tentu dengan uang kolektif kita. Akan tapi, sampai tenggang waktu pembayaran telah usai, kau sama sekali tidak menghubungiku terkait kejelasannya. Aku menyesal sekali pada waktu itu. Dan saat ini, temanku ambil cuti dan ia berhenti kuliah untuk semester ini dan berangkat bekerja menghidupi keluarganya. Aku menulis paragraf ini dengan sedikit meneteskan air mata. Aku tidak sedang membuat drama, atau memelankoliskan keadaan. Dan jika pembaca merasa hal ini tidak perlu ditulis, hla mbok ben, aku sek nulis je.

Kemarin aku baru saja dengar kabar jika kamu akan menerbitkan sebuah buku, yang berisikan sebuah memoar yang dikemas dalam sebuah esai dan puisi. Mulai dari yang benar-benar serius, dramatis, atau bahkan kicauan dalam setengah sadar. Aku sangat-sangat mendukung penuh pijakan langkah tersebut. Mengapa demikian? karena aku benar-benar yakin apabila buku ini terbit, buku tersebut dapat dijadikan sebuah bahan diskursus atau bahkan bisa dijadikan sebagai kitab yang tidak suci untuk meminta izin kepada pasanganya sebelum turun ke jalanan. 

Lebih dari itu, buku “Tidak Ada Pagi Revolusi, Sementara Ada Pagi Jatuh Cinta” adalah buku yang secara konsisten bicara soal perjuangan yang tak akan dimenangkan juga perihal kasih sayang terhadap apa yang ia sayangi.

Sepertinya tidak akan cukup waktu dan lembar yang dihabiskan untuk sekadar mengulas buku, Ncis, yang akan segera terbit. Namun, perlu digarisbawahi bahwa buku tersebut sangatlah menarik untuk dibaca dalam kondisi apapun. Baik dalam ruang tunggu pemberangkatan kereta api, sofa rumah, bahkan di jalanan kumuh sekalipun. Aku sangat merekomendasikan buku ini bagi kalian yang belum pernah terlibat dalam “Demonstrasi” untuk membaca buku tersebut. Selain apa yang telah aku jelaskan di atas, buku tersebut juga membuka ruang pengetahuan baru, bahwa Demonstrasi bukan soal pembangkangan, pemberontakan, perusakan fasilitas umum, serta berbagai stigma menjijikan lainnya.

Cukup sekian tulisanku tentangmu, Ncis. Adapun kisah-kisah yang indah dan barangkali ketika menuliskan aku lupa. Aku bersumpah bahwa aku tidak sengaja, tidak menuliskan hal yang sangat berkenan di hidupmu saat bersamaku. Dan semoga, kenangan indah itu tetap menjadi kenangan kita. Aku tak akan pernah melupakan kenangan-kenangan berharga, bersamamu, bersama teman-temanmu dan temanku.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Krisnaldo, Buku dan Keliaran Intelektual"

Posting Komentar