Kepada Krisnaldo dan Isti

 Oleh: Fajar Assidiq (Peneliti Politik Islam)



Manusia tidak tahu kapan hati-cinta akan bertemu dan bertumbuh. Isti penasaran dengan ketidaktahuan itu – mencari tahu dan bertemu. Sedangkan Krisnaldo jarang sekali jatuh cinta. Apalagi jika berlebihan. Jatuh cinta, katanya, “mengurangi sisi revolusioner dalam dirinya.” Krisnaldo sulit sekali dilucuti, tapi Isti tahu harus berperan seperti apa. Isti menjadi wadah yang baik bagi sisi lain Krisnaldo yang orang lain jarang tahu.

Mencari celah terhadap abstaksi pikiran seseorang tidak adil jika tidak berpikir pada spektrum pemikiran yang sama. Jika tidak seperti itu, maka sama saja menjadi sok paling tahu dan cenderung membohongi diri. Untuk itu, mencari celah pada pikiran Aldo yang sedang berada di puncak asmara, sedangkan aku mengalami stagnansi kemesraan, maka butuh pekerjaan yang lumayan rumit karena harus mendaki puncak kemesraan itu terlebih dahulu.

Aku mulai dengan mengkaji kembali filsafat cinta, lalu aku bawa dalam lamunan sambil menikmati mendungnya langit Semarang dan hijaunya lingkungan kosanku. Aku lihat sekelompok pemuda sedang berkumpul, mereka sedang merawat ikan lele. Aku putari sekali jogging track, aku lihat orang tua sedang mengasuh anaknya, ibu-ibu sedang asik mengobrol, anaknya mengintip karena aku tertangkap sedang mencuri pandang. Kemudian, aku ulangi lagi mengkaji kembali tentang filsafat cinta. Baru aku bisa sedikit bisa mengimbangi puncak asmara Aldo.

Cinta tidak pernah dapat diartikan secara utuh. Hal itu karena cinta adalah sumber dari segala pengertian. Romantisme heterogen maupun homogen adalah cinta. Kutu buku terhadap literasi adalah cinta. Politik untuk kesejahteraan adalah cinta. Environtmentalisme adalah cinta.. Meski tidak dapat diartikan secara utuh, cinta selalu menjadi awal dari keutuhan.

Cinta yang bermuara pada keutuhan, maka sifatnya abadi. Cinta menjadi awal sekaligus akhir. Nafas dua insan heterogen maupun homogen mendadak bisa berakhir, tetapi cintanya tidak akan. Habibie, misalnya, yang rutin mewangikan kubur Ainun.

Pembangkangan sipil juga menjadi awal sekaligus akhir, maka sifatnya abadi. Ketidakadilan selalu bersifat evolutif. Muncul bergonta-ganti menjelma berwujud primitif, kerajaan, otoriarianisme, industrialisasi, demokrasi hingga pasar bebas. Sekalipun pembangkang buru-buru dihilangkan, dikucilkan, serta dimatikan. Meminjam istilah para Marxian, pembangkang selalu hadir menjadi “hantu-hantu” bagi pelaku ketidakadilan sekaligus merasuki para penggerak perlawanannya.

 Maka, aku harap dan barangkali Aldo juga berpikir demikian, makna cinta dalam buku ini berarti Eros. Tidak sekedar Philia maupun Agape. Bukan berarti tidak bijak maupun tidak simpati terhadap nilai-nilai ketuhanan. Namun hanya Eros yang mampu menciptakan gairah perlawanan. Pula untuk Aldo, semoga Eros, tidak melulu tentang gairah seksual.

Akhirnya, pembangkangan sipil adalah cinta yang Eros. Maka, mustahil tidak ada pagi revolusi karena revolusi adalah jatuh cinta. Bangkit ada karena jatuh cinta, jatuh lagi bangkit lagi.

 Ada pagi jatuh cinta, berarti ada pagi revolusi.



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kepada Krisnaldo dan Isti"

Posting Komentar